Portal berita terkini update setiap hari

2 September 2012

Adiksi Terhadap Nikotin Memicu Despresi


Apa itu Nikotin, Nikotin adalah, Bahaya Nikotin, Nikotin menyebabkan
Otak manusia merupakan organ menakjubkan. Otak terdiri dari milyaran sel yang bisa saling berkomunikasi dan menerjemahkan berbagai pengaruh, pikiran, mood, dan emosi. Kecanduan atau adiksi terhadap bahan kimia tertentu, bisa berdampak pada sistem kerja otak kita. Termasuk adiksi nikotin para perokok.

Jika seseorang menggunakan zat kimia tertentu, entah alkohol, nikotin, atau narkoba untuk mengubah mood dan diulang-ulang sehingga mereka merasa lebih baik dibandingkan sebelum menggunakannya, maka mereka sebenarnya tengah membangun jalur adiksi.

Depresi oleh sebagian orang dideskripsikan sebagai hilangnya energi dan tidak minat terhadap apapun. Kadang penggunaan zat adiksi sengaja ditambah sebagai stimulan atau perangsang agar bisa meningkatkan mood seseorang yang tengah merasa sedih atau depresi. Padahal, amfetamin, kokain, atau nikotin ini selain meningkatkan mood bagi penggunanya, juga akan memacu zat kimia lain yang akan menyebabkan depresi. Yang terjadi kemudian adalah, jika zat stimulan ini digunakan, maka penggunanya akan merasakan lebih baik. Tetapi jika dihentikan, mereka merasa depresi. Inilah yang disebut adiksi.


Penelitian menyatakan bahwa merokok menyebabkan depresi. Sudah banyak diketahui bahwa angka penderita depresi lebih banyak pada kalangan perokok diband ingkan non-perokok. Penelitian yang dilakukan di Universitas Otago, New Zealand mengamati 1000 pria dan wanita berusia 18, 21, dan 25 tahun. Ternyata jumlah penderita depresi lebih banyak 2 kali lipat pada perokok.

Penelitian yang dipublikasikan di British Journal of Psychiatry, ini menyatakan bahwa penyebab meningkatnya risiko depresi adalah kecanduan terhadap nikotin. Diduga, nikotin menyebabkan perubahan aktivitas neurotransmiter di otak, yang memicu depresi.

Hal ini bertolak belakang dengan pendapat para perokok yang menyatakan bahwa merokok bisa menjadi semacam obat depresi. Namun bukti-bukti ilmiah menemukan bahwa merokok justru meningkatkan efek negatif (emosi).
Peran nikotin pada depresi sangat rumit, karena sebagian perokok merasakan “kebahagiaan”

setelah merokok. Perokok, yang merasakan depresi seringkali menggunakan nikotin (rokok) untuk meningkatkan mood. Tetapi benarkah nikotin berperan dalam peningkatan mood ini? Dr. Bonnie Spring, PhD dari Illinois mencoba meneliti apakah benar nikotin bisa membangkitkan mood.

la meneliti 63 perokok yang tidak pernah terdiagnosis depresi, dan 61 orang mantan perokok yang tidak pernah mengalami depresi, serta 41 orang yang tengah mengalami depresi. Semua diberi rokok nikotin atau tanpa nikotin. Memang benar, mereka yang mengalami depresi menunjukkan peningkatan mood yang positif jika diberi nikotin.

Penelitian ini kemudian dipantau terus sampai tahun 2010 di Universitas Pittsburg. Dengan tetap menggunakan rokok nikotin dan non-nikotin, peneliti menemukan bahwa perokok merasa lebih baik setelah mengisap rokok, tetapi hanya jika mereka tidak merokok selama beberapa hari. Perbaikan mood setelah berhenti merokok merupakan temuan yang cukup kuat. Tetapi, rokok hanya sedikit sekali memperbaiki mood negatif pada berbagai hal kecil penyebab stres misalnya tugas kantor, berbicara di depan umum, atau harus menyiapkan presentasi.

Peneliti mengatakan bahwa membaiknya mood negatif karena rokok tergantung pada situasi, bukan karen nikotin. Hasil penelitian ini melawan asumsi yang mengatakan bahwa merokok, atau nikotin, bisa menghilangkan mood negatif.

Satu faktor utama yang berperan adalah harapan perokok itu sendiri. Ini sudah diteliti oleh ahli dari Universitas Montana. Mereka menulis bahwa harapan terhadap kemampuan nikotin memperbaiki mood negatif, memegang peran penting kaitan antara rokok dan depresi.

Mereka menanyakan pada 315 perokok dalam suatu survei untuk mendukung teori ini. Para perokok meyakini bahwa merokok dalam dosis tinggi akan mengurangi emosi negatif. Ini adalah harapan yang sepenuhnya menjelaskan kaitan antara depresi dan merokok

Mungkinkah kaitan antara merokok dan depresi benar-benar akibat ketergantungan zat? dari Swiss tidak berpikir demikian. Setelah melakukan survei Peneliti mengatakan bahwa membaiknya mood negatif karena rokok tergantung pada situasi, bukan karena nikotin, 1.849 pria maupun wanita, mereka menemukan bahwa ketergantungan alkohol dan kokain juga secara bermakna terkait dengan depresi. Maka sama saja sebenarnya dengan ketergantungan nikotin. Merokok tetap terkait kuat sebagai penyebab depresi.

Bukti-bukti semakin menolak nikotin mampu memperbaiki mood, meskipun banyak yang percaya sebaliknya. Banyak perokok yang merasa bahwa setelah mereka berhenti merokok, justru seperti depresi. Mood menjadi turun dan mudah tersinggung. Pada akhirnya mereka kembali lagi ke rokok.

Hal ini tidak sepenuhnya salah karena nikotin sendiri memang bekerja sebagai stimulan yang membuat penggunanya merasa lebih baik. Masalahnya, menstimulasi otak dengan cara seperti ini akan mengacaukan berbagai senyawa di otak sehingga jika merokok dihentikan, yang terjadi malah depresi. Bagi yang sebelumnya pernah menderita gangguan mood seperti depresi dan ansietas, nikotin membuat jalur ini semakin buruk.

Oleh karena itu bagi seseorang yang tidak pernah mengalami depresi, tidak pernah merasakan cemas berlebihan, tidak pernah mengalami sindroma pre-menstruasi atau depresi pasca melahirkan, atau tidak memiliki riwayat depresi di keluarga, tidak perlu takut berhenti merokok! Anda tidak akan depresi hanya gara-gara berhenti merokok. Yang harus Anda lakukan hanyalah menghentikan kecanduan nikotin dan ada banyak pilihan obat untuk membantu Anda.

Berolahraga sangat baik bagi yang ingin berhenti merokok. Selain itu ditunjang dengan istirahat cukup dan nutrisi yang baik.

Bagi yang memiliki riwayat depresi, maka yang harus Anda lakukan adalah berkonsultasi dengan dokter untuk gangguan depresi Anda. Kemungkinan Anda tidak sekadar berhenti merokok tetapi juga butuh konseling, terapi perilaku dan obat-obat anti depresan.

Beberapa gejala penghentian nikotin di antaranya: turunnya mood, mudah tersinggung, susah konsentrasi, dan merasa lapar. Gejala ini wajar dan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu setelah berhenti merokok.



Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

 
© 2011 Hai Indonesia
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top