
Berbagai cara dilakukan orang untuk berhenti merokok. Ada yang berkonsultasi ke dokter, melakukan konseling, dan ada juga yang mencoba terapi pengganti nikotin. Saat ini ada beberapa produk yang ditawarkan produsen yang diklaim bisa menjadi pengganti rokok tembakau. Namun tidak semuanya bisa dibuktikan aman dan efektif.
Sebelum memutuskan mencoba terapi berhenti merokok, kenali terlebih dahulu manfaat dan kerugiannya. Jangan sampai keinginan mulia Anda berhenti merokok justru menghantarkan Anda ke jurang lain yang lebih berbahaya!
Rokok herbal
Rokok herbal dibuat dengan alasan agar perokok bisa mempertahankan kebiasaannya, namun dengan “isi” rokok yang diklaim lebih sehat dibandingkan rokok pada umumnya. Rokok herbal biasanya berisi campuran rempah-rempah dengan rasa berbedayang bisa memberikan aroma tertentu pada para perokok. Aroma yang biasa terkandung dalam rokok herbal seperti mentol, cengkeh, kayu manis, jasmin, dan bunga mawar.
Meskipun bahan dalam rokok herbal bisa ditemukan dalam toko makanan kesehatan, tapi ketika rokok ini dinyalakan maka tumbuh-tumbuhan tersebut juga bisa menghasilkan karbon monoksida dan tar yang biasa ada dalam rokok tembakau.
Selain itu rokok herbal juga masih memungkinkan bagi para perokok dan orang disekitarnya menghisap asap yang dihasilkan, sehingga menempatkan orang-orang tersebut pada bahaya kanker paru-paru dan jantung. The National Institute on Drug Abuse mengungkapkan bahwa rokok kretek herbal berbahaya ketika dibakar.Bahan kimiayang dihasilkan ketika dibakar bisa meningkatkan risiko perokok terhadap bahaya infeksi pernapasan (pneumonia, bronkitis).
Sebuah studi yang dilakukan oleh National Institute on Drug Abuse Intramural Research Program di Baltimore menemukan bahwa rokok kretek serta rokok yang menyatakan bebas bahan adiktif tetap mengandung kadar nikotin yang sama dengan rokok standar.
Bisa jadi rokok herbal tidak lagi mengandung nikotin, Namun tetap saja harus diingat bahwa apapun isi herbal pada rokok, bisa menimbulkan masalah pada saluran pernapasan dan meningkatkan risiko kanker. Ingat, nikotin bukan semata-mata zat yang menyebabkan kanker, tetapi ada ratusan bahan lain di dalam rokok, termasuk dalam rokok herbal.
Untuk itu jika memang berniat menghentikan kebiasaan merokok, sebaiknya hindari penggunaan rokok herbal atau jenis rokok lain yang mengklaim lebih sehat. Tapi mulailah dengan niat yang kuat serta konsultasikan dengan ahlinya jika memang membutuhkan bantuan terapi berhenti merokok.
Rokok Elektrik (e-cigarettes)
Rokok elektrik termasuk fenomena baru. Rokok elektrik diciptakan untuk melawan rokok tembakau. Konsep rokok elektrik ini awalnya dimulai di Cina sebagai negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Target pasarnya ke seluruh dunia terutama Amerika Serikat.
E-cigarette ini terlihat mirip sekali dengan rokok pada umumnya, termasuk rasanya. Desain produk dibuat sedemikian rupa agar saat dihisap, perokok seperti tengah merokok yang sebenarnya.
Rokok elektrik ini masih mengandung nikotin, namun dosis amat kecil sehingga dipercayai tidak menyebabkan kecanduan. Oleh karena itu iklan-iklan yang mempromosikan produk rokok elektrik ini selalu menegaskan bahwa rokok elektrik tidak berbahaya dibandingkan rokok tembakau. Selain itu, tidak membahayakan orang sekitar sebagai perokok pasif.
Beberapa produsen bahkan mengklaim bahwa rokok elektrik bisa sepenuhnya membantu perokok menghentikan kebiasaan merokok tembakau. Tetapi FDA secara tegas menyatakan bahwa bukti keampuhan rokok elektrik ini belum teruji. Di Amerika, rokok elektrik tidak dimasukkan dalam produk yang memiliki manfaat kesehatan. Jadi segala klaim yang berbau medis pada rokok elektrik adalah ilegal.
Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa rokok elektrik berbahaya untuk kesehatan. Berbagai “perasa” yang menyerupai rasa tembakau pada rokok elektrik ini, dikhawatirkan membawa dampak buruk bagi kesehatan, apalagi jika berbicara tentang kontaminasi baterai di dalam rokok elektik.
Shisha atau Hookah
Hookah atau shisha adalah alat untuk membakar tembakau yang biasa digunakan di negara Timur Tengah. Tetapi saat ini marak sekali cafe-cafe yang menawarkan shisha. Bedanya dari rokok biasa yang tembakaunya dilinting kemudian dihisap, pada shisha tembakau dimasukkan dalam tabung yang disebut bong yang disambungkan dengan sebuah pipa lentur untuk mengisap aroma tembakau berbagai rasa.
Shisha adalah tembakau basah, Berbeda dengan merokok, gas yang dikeluarkan shisha ini dingin sehingga dianggap perokok tidak berbahaya. Shisha juga dimodifikasi dengan berbagai rasa buah-buahan, jadi jangan heran Anda bisa merokok dengan aneka rasa buah-buahan ada rasa strawberi, apel, ceri, anggur dan berbagai rasa lainnya.
Menurut hasil penelitian dari Department of Health and the Centre for Tobacco Control, masyarakat yang menghisap rokok shisha atau tembakau herbal akan berisiko mengalami peningkatan kadar karbon monoksida dalam tubuh. Hal itu disebabkan, dalam satu sesi pengisap rokok shisha memiliki kandungan karbon monoksida 4-5 kali lebih tinggi dalam tubuh ketimbang saat mengisap rokok tembakau. Tingginya kadar karbon monoksida ini nantinya berpotensi menyebabkan kerusakan otak dan kondisi tidak sadar.
Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa jumlah nikotin pada shisha justru sangat tinggi. Jadi merokok dengan shisha ini tidak kalah bahayanya dari merokok karena partikel tembakau saat dibakar atau dipanaskan akan membawa racun yang karsinogenik dan menyebabkan adiksi.
Nicotine replacement therapy (NRT)
NRT adalah pemberian nikotin selain dengan rokok sebagai bagian terapi berhenti merokok. NRT berfungsi membantu penghentian pemakaian nikotin dan menyuplai “kecanduan” tubuh akan nikotin. Bentuk yang paling umum dari NRT adalah koyo {patches) dan permen kunyah {gum). Ada juga dalam bentuk obat hirup dan sirup obat batuk {lozenge).
Orang menjadi tergantung pada rokok yang mengandung nikotin karena nikotin meningkatkan berbagai zat kimiawi otak seperti dopamine dan norepinefrin. Jika berhenti merokok, kadar zat kimia tersebut akan turun dan tubuh bereaksi dengan menunjukkan gejala putus {withdrawal) nikotin seperti “nagih”. Nikotin yang ada di permen maupun koyo akan menyuplai permintaan tubuh ini seperti halnyayang diberikan rokok. Dengan demikian, gejala penarikan nikotin tidak dirasakan terlalu berat bagi yang berhenti merokok.
Jika nikotin didapatkan melalui rokok, maka ia akan berpindah dengan cepat dari paru ke aliran darah. Sedangkan dengan produk NRT (permen atau koyo), dibutuhkan waktu lama untuk nikotin masuk ke sistem peredaran darah. Hal inilah yang menyebabkan produk NRT tidak menyebabkan kecanduan seperti rokok. Produk NRT aman jika digunakan dengan benar. Nikotin saja tidak terlalu berbahaya seperti halnya merokok, di mana tar, karbon monoksida, dan zat racun lain ikut bercampur.
Mengunyah beberapa butir permen nikotin sehari jauh lebih baik daripada merokok tembakau. Rokok mengandung 4.000 zat kimia dan 200 di antaranya beracun, dan 60 lainnya bersifat karsinogenik. Selain itu merokok akan menciptakan banyak perokok pasif di sekitarnya, akibat asap rokok yang terhirup tak hanya dari perokok tetapi juga dari rokoknya. Menjadi perokok pasif tidak kalah berbahaya.
Memang benar secara psikologis, bahwa nikotin yang masuk ke tubuh jauh lebih kecil melalui permen dibandingkan dengan merokok. Artinya, tetap saja ketergantungan pada nikotin tidak bisa hilang. Jika memang tujuannya adalah lepas dari ketergantungan nikotin, maka tidak selayaknya permen nikotin ini digunakan terus menerus.
Sembuh dari ketergantungan termasuk belajar hidup tanpa nikotin. Jika kita tetap bergantung pada nikotin, meskipun hanya dalam bentuk permen, maka kesempatan untuk kambuh dan lari kembali ke rokok sangat terbuka lebar. Semakin lama mengandalkan permen, niscaya toleransi tubuh terhadap nikotin pun akan meningkat.
Jadi produk NRT ini boleh saja digunakan tetapi hanya sementara, tidak boleh digunakan dalam jangka waktu lama. Anda harus berkonsultasi ke dokter, konseling dan mencari jalan terbaik berhenti merokok.

















0 comments