Portal berita terkini update setiap hari

3 September 2012

Kenyataan Realita Show di TV adalah Bohong!

Haiindonesia.com - Reality show, kalau diindonesiakan: pertunjukan realitas, sesungguhnya bukan barang baru di jagat televisi. Tahun 1948, ketika dunia pertelevisian Amerika sedang berkembang, Allen Funts sudah membuat acara bertajuk Candid Camera yang isinya ngerjain orang. Kamera merekam reaksi para korban dan hasilnya menjadi tontonan pemirsa. Sifatya spontan, apa adanya, dan tanpa naskah untuk alurnya. Tanpa naskah dan tanpa pengarahan sutradara.
Inilah kesepakatan industri televisi tentang pengertian reality show. Tanpa rekayasa dan mereka yang tampil adalah orangorang biasa, artinya bukan aktor yang berakting. Batasan ini pula yang dipegang reality show kelas dunia semacam Survivor, The Apprentice, Amazing Race| Fear Factor; atau American Idol Reality show juga menjadi andalan stasiun televisi kita untuk menarik penonton. Maka muncul acara-acara Katakan Cinta, Harap-Harap Cemas, Termehek-mehek, atau Masihkah. Dia Mencintaiku. Nah, sampai di sini orang mulai mengemyitkan dahi, apakah benar acara seperti ini memberi tontonan positif?
Di antara sekeranjang pilihan acara televisi setiap hari, reality show sebenamya bukan acara paling disukai. Responden telesurvei Intisari misalnya, hanya menempatkan di peringkat ke-5 setelah acara berita, komedi, olahraga, dan film. Peminatnya mayoritas wanita. Para pria umumnya menyukai tayangan berita dan olahraga. Dari hasil survei tergambarkan, penonton sebenarnya tidak berharap banyak kepada reality show. Mereka yang mengaku tertarik, menonton karena menganggapnya hiburan belaka.

Meski ada pula yang berharap dapat mengambil hikmah di acara itu, karena pada dasarnya mereka percaya yang ditampilkan bisa terjadi di sekitar mereka. Sedangkan penonton yang menyatakan tidak tertarik, beranggapan acara-acara semacam ini hanya sekadar hasil rekayasa tim kreatif stasiun televisi atau rumah produksi. Kalau cuma bohongan, terus buat apa ditonton? Pihak stasiun televisi sebenarnya tidak pernah menyatakan real¬ity show terutama yang bertema drama kisah kehidupan adalah seratus persen nyata. Hadiansyah Lubis, Head of Marketing Public Relation TVans TV, menyatakan tayangan seperti Termehek-mehek adalah dream reality. “Tapi dibuat berdasarkan kisah nyata. Ketika menjadi sebuah tayangan wajar jika ada dramatisasi,” tutumya 116 Intisari MARET2010 kepada Harian Surya, Juni 2009. Sementara mayoritas responden (74%) memberi pengertian reality show adalah acara yang diangkat dari kisah nyata. Hanya sekitar 12% saja yang berpendapat acara yang direkayasa. Selebihnya mengambil jalan aman, yakni menganggapnya sebagai hiburan yang pengambilan gambarnya diambil langsung. Karena itu wajar jika terjadi dramatisasi.
Acara ini ditonton untuk melihat kehidupan orang lain. Perngamat pertelevisian, Arswendo Atmowiloto menilai, seharusnya penonton televisi hams terbiasa dulu dengan kisah-kisah kehidupan nyata di televisi berbentuk reality tv. Kisah-kisah nyata ini bisa menggembirakan, mengharu biru, mencengangkan, dan sebagainya. "Jika sudah akrab, mereka akan bisa membedakannya dengan reality show, yang memang dititikberatkan pada shownya atau pertunjukannya,” kata Wendo. Tapi apa pun persepsinya, responden ternyata tetap menganggap ini sekadar tontonan ringan. Karena itu banyak yang menontonnya di siang menjelang sore hari, antara pukul 15.00 - 17.00.

Seperti kita tahu, pada rentang waktu tersebut, reality show adalah pilihan terbaik di antara acara-acara lain yang kurang menarik. Saingannya hanya film anak-anak, infotainment atau drama Asia. Terbukti saat stasiun televisi mulai menayangkan siaran berita, pukul 17.00, posisi reality show langsung turun. Sampai malam hari, posisinya tidak membaik, tetap di bawah tayangan. film, komedi, serta sinetron. Situasinya berbeda pada akhir pekan. Sabtu dan Minggu, pada jam tayang utama (prime time), antara pukul 17.00 I 21.00, posisinya ad a di tempat kedua setelah siaran berita. Perbedaan hasil itu agaknya disebabkan pada akhir pekan televisi bukan satu-satunya pilihan hiburan. Penonton bisa melakukan aktivitas lain bersama keluarga.
Dikutip dari : "Majalah Intisari"
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

 
© 2011 Hai Indonesia
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top