
Haiindonesia.com - Sekecil apapun lahan, bila dimanfaatkan secara baik, pasti akan memberi hasil. Itulah yang dilakukan Tonny FL, seorang pedagang kambing di bilangan Kayu Manis, Jakarta Timur. Memanfaatkan lahan seluas 1,5m I x 20m di samping rel kereta api, depan rumahnya, di kawasan Pramuka, Tonny menjajakan kambingnya di sana. Tonny merupakan generasi ketiga 1 silsilah pedagang kambing di Kayu Manis. Awalnya, usaha tersebut dirintis oleh kakeknya, yaitu Asmawi pada 1967. Setelah itu diteruskan Ali Asmawi dan Muksin Asmawi. Sementara Tonny adalah anak Muksin.
Tidak seperti pasar pada umumnya, pasar kambing di Kayu Manis, itu hanya dipergunakan untuk berjualan oleh dua orang pedagang kambing. Yang keduanya merupakan penerus usaha Asmawi. Menyadari bahwa lahan tempatnya berjualan adalah wilayah umum, Tonny berusaha menjaga kebersihan. Dia juga selalu memangkas pohon-pohon yang tumbuh liar disepanjang tempatnya berjualan.
“Kambing yang saya jual telah melalui badan karantina dan selalu diperiksa oleh dinas peternakan, sehingga terjamin kesehatan dan jauh dari penyakit,” kata Tonny menambahkan.
Karena keterbatasan tempat, selama lini Tonny hanya bisa mendatangkan kambing dagangannya dari daerah Jawa. Antaralain dari Wonosobo, Banjarnegara, dan Kebumen, la tidak memiliki lahan untuk beternak sendiri. Sementara untuk menarik minat konsumen, selain dalam bentuk kambing hidup, Tony juga melayani pembelian dalam bentuk daging matang. Baik untuldkepentingan pesta maupun aqiqah. Sedangkan harga per ekornya ditawarkan |mulai Rp 650 ribu sampai Rp 3juta
Di daerah Jakarta Timur, usaha Tonny 1ni terbilang sudah-dikenal luas. Bahkan, sebagian pembelinya datang dari tempat yang relatif jauh, seperti Depok, Bekasi, Cibubur, Cengkartiwdan Kalideres. Rata-rata, setiap minggu dia bisa menjual 30 ekonjkambing. Namun, pada hari raya Idul Qurban dan Maulud Nabi, penjualannya meningkat tajam.
Tidak seperti pasar pada umumnya, pasar kambing di Kayu Manis, itu hanya dipergunakan untuk berjualan oleh dua orang pedagang kambing. Yang keduanya merupakan penerus usaha Asmawi. Menyadari bahwa lahan tempatnya berjualan adalah wilayah umum, Tonny berusaha menjaga kebersihan. Dia juga selalu memangkas pohon-pohon yang tumbuh liar disepanjang tempatnya berjualan.
“Kambing yang saya jual telah melalui badan karantina dan selalu diperiksa oleh dinas peternakan, sehingga terjamin kesehatan dan jauh dari penyakit,” kata Tonny menambahkan.
Karena keterbatasan tempat, selama lini Tonny hanya bisa mendatangkan kambing dagangannya dari daerah Jawa. Antaralain dari Wonosobo, Banjarnegara, dan Kebumen, la tidak memiliki lahan untuk beternak sendiri. Sementara untuk menarik minat konsumen, selain dalam bentuk kambing hidup, Tony juga melayani pembelian dalam bentuk daging matang. Baik untuldkepentingan pesta maupun aqiqah. Sedangkan harga per ekornya ditawarkan |mulai Rp 650 ribu sampai Rp 3juta
Di daerah Jakarta Timur, usaha Tonny 1ni terbilang sudah-dikenal luas. Bahkan, sebagian pembelinya datang dari tempat yang relatif jauh, seperti Depok, Bekasi, Cibubur, Cengkartiwdan Kalideres. Rata-rata, setiap minggu dia bisa menjual 30 ekonjkambing. Namun, pada hari raya Idul Qurban dan Maulud Nabi, penjualannya meningkat tajam.

















0 comments