
Karena itu, menurut Emi Budiyati, peneliti anggur dari Balitjestro, anggur Jestro Ag 60 memiliki nilai ekonomi di pasaran. “Jadi bisa bersaing dengan anggur impor,” katanya. Untuk tahun pertama, dalam satu hektar menghasilkan lima ton, namun setelah tiga sampai empat tahun merangkak naik menjadi 12 ton. Tidak heran bila saat ini banyak petani yang tertarik untuk menanam anggur jenis ini. Sayang, Balitjestro belum bisa menyediakan dalam jumlah besar.
Sama seperti anggur Prabu Bestari yang dikembangkan di Probolinggo, asal-usul Jestro Ag 60 pun dari Australia, dengan cara stek. Tampaknya, iklim'dan tanah di sekitar Malang yang lumayan dingin lagi-lagi membuat tanaman asal negeri empat musim ini tumbuh baik. Menurut Emi, anggur Jestro Ag 60 bisa ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 950 di atas permukaan laut.
Sedangkan kendala para petani anggur selama ini adalah tidak bisa menanam bila musim hujan. Tapi, menurut Emi, kesulitan itu bisa diatasi dengan teknologi greenhouse, yakni meittberi lapisan kaca pada kebun anggur. Teknologi tersebut akan membuat anggur bisa panen sepanjang musim. “Tapi harus mengeluarkan yang besar,” ujarnya.

















0 comments