
Petani kelahiran Desa Jejeng, Kecamatan Bumijaya, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menjadikan petani sebagai pilihannya. Itu berarti gelar sarjana yang susah payah dia dapat dari fakultas Farmasi UGM tidak digunakansebagaimana mestinya. Padahal, dengan ijasah tersebut, Slamet bisa bekerja menjadi peracik obat, tanpa harus berkeringat karena terik panas matahari atau kotor oleh lumpur.
Iming-iming gaji besar tak membuat Slamet berubah pendirian. la bergeming, dan tetap memilih petani sebagai profesinya, sekaligus meneruskan pekerjaan yang telah bertahun-tahun digeluti orangtuanya.
Justru dengan bekal pengetahuan di bidang kimia Slamet melakukan ujicoba sistem pertanian lahan sempit. Ujicoba yang dilakukan pada kurun waktu 2004-1 2005 Itu berjalan di luar dugaan. Hasil yang diperoleh lebih cepat dari dugaan semula.
“Nasib petani kita masih memprfhatinkan, karena tergantung pada pola monokultur. Agar nasib berubah, petani harus diajarkan menggunakan sistem terpadu, dan tidak tergantung hanya pada satu jenis tanaman. Juga belajar memasarkan sendiri hasil yang dia dapat dari sawahnya,” kata Slamet seperti hendak menggugah semangat petani lain agar lebih maju.
Kini, pria kelahiran Tegal 17 April 1969 itu telah mendapatkan hasil dari apa yang dia yakini.Dan, lambat laun Slamet bisa menambah luas sawahnya dari hasil bertani secara terpadu. Karena itu, jangan heran bila
musim penghujan datang, Slamet tidak serta merta menanami seluruh sawahnya hanya dengan padi.
“Padi, palawija dan sayur-mayur memiliki kelebihan masing-masing. Katau kita bisa memanfaatkan semua kelebihan itu niscaya keberhasllan tinggal menunggu waktu. Jadi bukan hanya tanaman saja yang terpadu hasilnya pun harus terpadu," jelas Slamet

















0 comments