
Puncaknya terjadi 1998, ketika bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi. Saat itu masyarakat Bangka Belitung berpesta pora. Pintu masuk di provinsi itu sarat dengan barang-barang elektronika dan kendaraan, akibat harga lada sangat tinggi, mencapai Rp100 ribu/kg. Menyebabkan pelabuhan jauh dari sepi dan tidak mengenal waktu Kabupaten Belitung
Di Bangka Belitung, lada pernah menjadi komoditas primadona. Tidak sedikit petani lada yang tiba-tiba menjadi orang kaya baru. Tanaman yang sudah dibudidayakan sejak zaman penjajahan ini juga sempat mempopulerkan nama Bangka Belitung di dunia bersama komoditas tamban timah.
Bagi pemerintah Bangka Beticung, lada sudah cukup banyak mengikuti alur sejarah provinsi ini jauh sebelum memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Selatan. Lada turut memberi sumbangan besar bagi PAD Sumatera Selatan pada saat Bangka dan Belitung masih menginduk ke sana. Juga bagi tidur.
Sayang, kondisi ini tidak berlangsung lama. Sejalan dengan situasi Indonesia yang membaik, menyebabkan harga komoditas dikenal sebagai Muntok White Pepper ini di pasar internasional meluncur tajam. Hanya pada kisaran belasan ribu per kilo. Akibatnya, lada pun mulai ditinggalkan petani. Hanya sedikit vang tersisa dan bertahan, dengan keyakinan dan harapan akan kembalinya masa kejayaan lada.
Beruntung, oeberapa tahun terakhir harga lada kian membaik, rneskf masih kerap berfluktuasi sesuai kondisi laut. Tahun 2008, lada ditingkat pengumpul dijual pada harga Rp 42.500, sementara April dijual dengan harga Rp39.000/kg.

















0 comments