Portal berita terkini update setiap hari

7 September 2012

Kebebasan Hati Seorang Muslim

Muslim

Haiindonesia.com - Rasulullah Saw. dalam salah satu sabdanya menyampaikan bahwa “dalam diri manusia ada segumpal daging, bila baik maka baiklah seluruh tubuh, tetapi bila buruk, maka buruklah seluruh tubuh, itulah hati.”.

Dalam gegap gempita pekik merdeka suasana peringatan hari kemerdekaan Republik tercinta, umat Islam lebur dalam kekhusyu’an ibadah Ramadhan. Dua peristiwa yang memiliki hakekat sama, yaitu membebaskan diri dari penjajahan.

Bila kemerdekaan suatu bangsa dimaknai terlepas dari kekuasaan bangsa lain, maka kapan seseorang dinyatakan bebas dari kekuasaan dari makhkluk lain.... ? Mari renungkan bersama ...

Dalam diri manusia selalu terjadi peperangan yang besar dan tak kunjung berakhir, begitu pesan Rasulullah Saw. pada kita. Yaitu antara nafsu dan hati, dimana nafsu selalu membujuk, merayu, menekan bahkan mengancam jiwa manusia. Nafsu tak henti-hentinya memerangi hati agar lemah, kalah dan tunduk, sehingga apapun keinginan yang diharapkan selalu terpenuhi bagaimanapun caranya, semua sah, tidak ada haram, kotor, najis dan tidak ada malu serta belas kasihan.

Nafsu tidak mengenal rasa puas atau berhenti, bahkan hingga sang hati mati dan mutlak terkuasai. Sehingga sang manusia tak lagi tampak kemanusiaannya. Bila ia cantik dan molek tubuhmya, maka dimatikan auranya hingga menjadi manekin yang bisa bergerak ke sana kemari. Bila ia tampan gagah badannya dilumpuhkan pesonanya hingga menjadi robot penghibur yang tinggi nilai rupiahnya. Atau dia berilmu tinggi, menguasai segala macam tehnologi terkini, kemudian nafsu melambungkannya dengan takabbur hingga dirinya tercerabut dari bumi dan menjadilah dirinya seolah tuhan yang berkuasa. Jika ia memiliki kekayaan yang berlimpah, kemudian nafsu membeli hatinya dengan riya’ dan bakhil hingga mati, menjadilah ia seekor babi rakus atau lebih hina, yang melahap habis apa saja yang ditemuinya, tak lagi mampu membedakan mana kotoran dan makanan, bila bisa dimakan, maka dimasukkanlah dalam perutnya. Atau dia memiliki kekuatan fisik yang tangguh, nafsu merebut hatinya dan menyusupkan dorongan berkuasa, maka jadilah manusia bengis, kejam dan biadab, di hadapannya yang ada cuma lawan yang harus dikalahkan, dibantai dan dihancurkan, siapapun mereka dan berapapun jumlahnya

tidak lagi dihitungnya. Nafsulah yang sesungguhnya menjadi belenggu bagi manusia.

Puasa ibarat pasukan tempur yang menyerang nafsu dengan dua target sekaligus, yaitu melemahkan suplai logistik dan mempersempit ruang gerak. Kekuatan bermula dari segala apa yang masuk ke dalam perut, dari sinilah nafsu mendapat suplai kekuatan, sementara berpuluh-puluh amal shalih yang dituntunkan oleh Nabi panutan kita, sungguh sangat efektif melemahkan serangan nafsu terhadap hati kita, sehingga menjadi kuat dan bersemangat melakukan kebaikan-kebaikan.

Kesempatan emas ini mari kita manfaatkan sebaik-baiknya, sehingga serangan yang akan dilakukan benar-benar memiliki daya ubah yang optimal, dengan benar berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman yang akan dikonsumsi, serta akhlak dalam mengkonsumsinya. Akhlak mengkonsumsi makanan dan minuman ini memberi pengaruh terhadap nilai, kualitas dan berkah yang akan didapat oleh tubuh kita, sekedar sehat atau benar-benar menundukkan agresifitas nafsu kita.

Sedang amaliyah Ramadhan yang kita kerjakan akan sangat mempengaruhi kedahsyatan serangan yang dilakukan, semakin banyak, benar dan ikhlash semakin besar daya hancur terhadap kukuhnya pengaruh nafsu terhadap diri kita.

Bila sukses melakukan keduanya layaklah bagi kita untuk ‘idil fithri, laksana bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Insya Allah.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

 
© 2011 Hai Indonesia
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top