
Jika Anda menderita hipertensi, jangan stres. Stres hanya akan memperburuk kondisi, karena stres adalah salah satu penyebab hipertensi itu sendiri. Apalagi jika Anda menghindari stres dengan merokok. Sama saja Anda keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya.
Stres sebenarnya merupakan respon tubuh terhadap stimulasi yang intens, misalnya temperature dingin, suara, atau konflik. Kondisi semacam ini akan merangsang sistem saraf simpatetik (bagian dari sistem saraf otonom) untuk melepaskan hormon epinefrin, norepinefrin, kortisol dari kelenjar adrenal.
Stres tidak selamanya buruk. Ada stres “baik” disebut eustress yang akan memacu aktifitas sehari-hari dalam hidup ini, dan stres yang membahayakan disebut distress. Pada kondisi distress, respon tubuh akan berkepanjangan dan jika menjadi kronis maka akan menimbulkan hipertensi dan selanjutnya aterosklerosis.
Banyak hal yang bisa memicu stres. Mulai dari suara berisik, tekanan terhadap penampilan, takut kehilangan orang yang kita sayangi, masalah keluarga hingga masalah pekerjaan. Stres merupakan respon tubuh kita sebagai persiapan akan situasi yang sulit. Secara fisik jika terjadi stres maka tekanan darah naik, napas menjadi lebih cepat, detak jantung juga meningkat, dan otot-otot mengencang. Jika sinyal “bahaya” sudah lewat, tubuh kembali rileks dan membangun kekuatan baru.
Tetapi stres yang konstan alias terus menerus akan merusak tubuh kita. Oleh karena itu, kita harus belajar mengendalikan stres. Untuk kasus tekanan darah tinggi, maka istirahat cukup dan relaksasi menjadi sangat penting. Penderita hipertensi harus memiliki waktu tidur cukup, jika perlu berlibur secara rutin dan menghindari konflik dalam hidup sehari-hari.

















0 comments